
Malam di Jalan Asia Afrika Bandung menyimpan cerita unik di balik kostum seram. Sosok-sosok berpakaian putih lusuh dengan riasan menakutkan ternyata bukan menghadirkan teror, melainkan keramahan dan tawa yang memecah kesunyian malam kota.
Berbeda dengan pemain hantu di wahana hiburan yang digaji untuk membuat pengunjung kaget, para pemeran di trotoar ini memiliki misi sederhana namun bermakna. Mereka hadir untuk menghibur, mencairkan suasana, dan membawa senyuman bagi yang melintas, terutama saat malam semakin larut dan jalan semakin sepi.
Tidak ada tarif resmi untuk berfoto bersama mereka. Pengunjung yang tertarik cukup memberikan sumbangan seikhlasnya. Aktivitas mereka memang mirip pengamen jalanan, tetapi dengan penampilan yang jauh lebih terstruktur, termasuk riasan yang butuh waktu hingga satu jam untuk dikerjakan sendiri tanpa pelatihan formal.
Di balik riasan menyeramkan tersimpan kisah ketahanan hidup yang keras. Ketika ditanya mengapa memilih pekerjaan tak biasa ini, tawa kecil mereka menyembuyikan alasan sesungguhnya. “Sebenarnya kita di sini bukan karena tertarik, tapi lebih ke bakat dan butuh,” ungkap salah satu pemeran yang memerankan karakter Nenek Lampir.
Lapangan pekerjaan yang sempit membuat usia dan ijazah sering menjadi penghalang bagi banyak orang. Di trotoar ini, mereka menemukan peluang berbeda. “Karena sekarang susah ya dapat pekerjaan. Di sini mah kita nggak pandang usia, tapi lebih ke punya skill,” jelas pemeran yang memerankan Suster Yuni Kece.
Setiap individu tiba di komunitas ini dengan latar belakang berbeda—ada yang diajak ketua komunitas, ada yang dibawa keluarga, dan ada pula yang melamar sendiri. Dari keberagaman itu, mereka membentuk keluarga kecil yang saling mendukung di bawah cahaya lampu jalanan kota.
Pekerjaan mereka bukan sekadar mencari uang tambahan, melainkan sebuah pernyataan ketahanan dan kejujuran. Di balik wajah pucat yang dirancang untuk menakutkan, tersimpan kehangatan manusia asli yang ingin menghibur warga kota dan menyambung hidup dengan cara paling sederhana dan tulus.
Sumber: Detik Travel




