
Seratus ribu lebih orang kini bekerja di kawasan yang 13 tahun lalu masih dipenuhi semak belukar. Itulah potret Bahodopi, kecamatan kecil di Morowali, Sulawesi Tengah, yang berubah drastis sejak PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) berdiri di sana.
IMIP lahir dari kebijakan hilirisasi nikel nasional — sebuah strategi besar pemerintah agar Indonesia tidak lagi sekadar menjual bijih nikel mentah ke luar negeri, tapi mengolahnya sendiri menjadi produk bernilai tinggi. Bahodopi pun jadi salah satu titik pembuktian kebijakan itu.
Kawasan industri ini menjalankan tiga klaster produksi utama. Pertama, klaster stainless steel yang mengolah nikel menjadi baja nirkarat. Kedua, klaster carbon steel untuk memproduksi baja karbon bagi kebutuhan konstruksi. Ketiga, klaster bahan baku baterai kendaraan listrik, termasuk komponen katoda dan anoda untuk baterai litium-ion.
Selain tiga klaster itu, IMIP juga dilengkapi fasilitas penunjang seperti pembangkit listrik, pabrik bahan kimia, hingga pelabuhan dan bandara khusus kawasan. Semua ini menjadikan Bahodopi bukan sekadar lokasi tambang, melainkan ekosistem industri yang lengkap.
Pertumbuhan tenaga kerja di sana terbilang luar biasa. Dari sekitar 35.000 pekerja pada 2020, angkanya terus naik hingga menembus 100.310 orang per September 2026 — terdiri dari 91.904 laki-laki dan 8.406 perempuan.
Dengan jumlah pekerja sebesar itu, perputaran uang di Bahodopi ikut melonjak. Pada 2025 saja, diperkirakan uang yang berputar di kawasan ini mencapai hampir Rp500 miliar per bulan, atau sekitar Rp5,9 triliun sepanjang tahun.
Geliat ekonomi ini mendorong tumbuhnya ribuan usaha kecil di sekitar kawasan. “Pertumbuhan kawasan yang begitu masif, turut mendorong sektor usaha di Bahodopi ikut berkembang. Riset mencatat lima jenis UMKM terbanyak di Bahodopi, antara lain Kios Pertamini (981 unit), Stan Minuman (735), Stan Makanan non-bangunan (670), Kios Umum (648), dan Warung Makan (591). Sebagian besar UMKM berada pada kategori usaha mikro dengan omzet hingga Rp300 juta per tahun, namun tren pertumbuhannya menunjukkan potensi naik kelas,” ucap Head of Media Department PT IMIP, Dedy Kurniawan.
Dampaknya juga terasa di level provinsi. Ekonomi Sulawesi Tengah tumbuh 9,43% pada triwulan IV 2025, meningkat dibanding triwulan sebelumnya yang sebesar 7,79%. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Tengah menyebut industri pengolahan berbasis nikel sebagai tulang punggung pertumbuhan tersebut.
Bahodopi hari ini adalah bukti nyata bahwa kebijakan hilirisasi bisa mengubah sebuah kecamatan sunyi menjadi mesin ekonomi yang berdenyut kencang — dan perjalanan itu tampaknya belum berhenti di angka 13 tahun.
Sumber: Antara News




