
Bukan pujian yang datang, melainkan kritik bertubi-tubi. Itulah yang dialami Tony Fernandes, pendiri sekaligus bos maskapai AirAsia, setelah ia memposting pengalamannya naik Singapore Airlines (SIA) di Instagram pada 1 Oktober lalu.
Fernandes bercerita bahwa ia terpaksa memilih SIA karena tidak kebagian kursi di penerbangan AirAsia. Dalam unggahannya yang disertai serangkaian foto, ia memuji layanan dan koneksi internet SIA, tapi di sisi lain menyentil soal makanannya. Menurutnya, Santan — merek layanan makanan resmi AirAsia yang menyajikan hidangan khas Asia Tenggara seperti nasi lemak dan nasi ayam — jauh lebih unggul soal cita rasa.
“Santan jauh, jauh lebih baik, dan awak kabin pun mengakuinya. Penerbangan yang hebat, tapi kualitas kami tidak kalah jauh,” tulis Fernandes dalam unggahannya.
Alih-alih mendapat dukungan, kolom komentar justru dibanjiri netizen yang mengalihkan topik. Banyak yang setuju Santan memang enak, tapi mereka lebih mempersoalkan hal lain. “Meskipun makanan di AirAsia itu enak, sayangnya hal-hal lain tidak demikian. Jika mempertimbangkan segalanya — terutama masalah keterlambatan, layanan, pembatalan, dan akuntabilitas — saya jelas lebih memilih Singapore Airlines,” tulis salah satu pengguna.
Keluhan soal jadwal penerbangan yang sering molor menjadi benang merah dari hampir semua komentar. “Penjadwalan ulang yang terus-menerus, keterlambatan yang lama, bahkan pembatalan penerbangan adalah hal-hal yang paling membuat penumpang frustrasi. AirAsia, tolonglah sadar dan fokus pada hal yang paling mendasar yaitu menghargai waktu penumpang,” tulis netizen lainnya.
Postingan sederhana soal selera makan itu akhirnya berubah menjadi ajang curhatan penumpang yang kecewa. Tampaknya, bagi banyak orang, enak atau tidaknya makanan di pesawat bukan prioritas utama dibanding tiba tepat waktu di tujuan.
Sumber: Detik Travel




