
Limbah cair pabrik kelapa sawit kini mulai dilirik sebagai sumber energi masa depan. PT Perusahaan Gas Negara (PGN) bersama dua mitra bisnis resmi memulai pembangunan fasilitas biometana di Sumatera Selatan, yang diklaim sebagai proyek pertama sejenisnya di Pulau Sumatera.
Proyek ini melibatkan tiga pihak: PGN, PT Toyota Tsusho Indonesia (TTI), dan PT KIS Biofuels Indonesia (KIS). Fasilitas yang dibangun ditargetkan mampu menghasilkan biometana—gas yang dihasilkan dari pengolahan limbah organik—sekitar 150.000 MMBTU per tahun. Groundbreaking atau peletakan batu pertama dilakukan pada Senin, 5 Oktober 2026.
Kerja sama ini sebenarnya bukan hal baru. PGN dan TTI sudah meneken nota kesepahaman soal pengembangan biometana sejak 2022. Dalam proyek ini, PGN berperan ganda: sebagai pembeli utama biometana yang dihasilkan, sekaligus penyalur melalui jaringan pipa yang sudah mereka miliki ke industri-industri pengguna, termasuk Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN).
Corporate Secretary PGN Fajriyah Usman menegaskan kesiapan perusahaan mendukung proyek ini dari sisi infrastruktur maupun bisnis. “Kami mengapresiasi TTI dan KIS yang telah memulai pembangunan fasilitas biometana ini. Bagi PGN, hal ini adalah langkah penting untuk menghadirkan gas terbarukan dari sumber domestik ke dalam rantai pasok energi nasional. PGN siap mendukung melalui infrastruktur dan kapabilitas niaga yang kami miliki agar biometana dapat dimanfaatkan oleh sektor industri,” ujarnya.
Dari sisi lingkungan, proyek ini juga punya dampak positif. Gas metana yang biasanya terlepas begitu saja ke udara dari limbah sawit kini bisa ditangkap dan diolah jadi energi, sehingga turut membantu pengurangan emisi gas rumah kaca—sejalan dengan target Indonesia mencapai net zero emission pada 2060.
Fajriyah juga menyebut bahwa industri yang menggunakan biometana ini akan lebih siap bersaing di pasar global yang kini makin menuntut rantai pasok ramah lingkungan. “Ketika biometana ini mulai berproduksi, industri seperti TMMIN akan memiliki akses terhadap energi rendah karbon yang mendukung daya saing di tengah tuntutan rantai pasok hijau global. Kami berharap model kolaborasi ini dapat direplikasi di daerah penghasil sawit lainnya,” tambahnya.
Jika proyek ini berjalan mulus, bukan tidak mungkin model serupa bakal ditiru di daerah-daerah lain yang juga kaya perkebunan sawit—mengubah limbah yang selama ini jadi masalah lingkungan menjadi sumber energi bernilai ekonomi tinggi.
Sumber: Antara News




